Kamis, 28 Februari 2019

JINGGA


Bersahaja dalam Jingga


L
angit tak pernah tinggalkan buminya, unta tak pernah tinggalkan gurunnya, pantai tak pernah tinggalkan ombaknya, pohon tak pernah tinggalkan rantingnya, begitu juga Jingga yang enggan sendiri, dia tak pernah tinggalkan keluarganya. Apa yang bisa ia lakukan tanpa keluarga? Hidup bagaikan tak bernilai, kematian yang menjadi impian. “Hempaskan saja ombak, runtuhkanlah gunung itu hingga menyapu  krikil jejak nafasku,  hidup tiada bernyawa tanpa kalian” ungkap nya dalam sebuah coretan tinta jingga.
            “Aku bersahaja. karena Jingga luar biasa, kami bangga memilikimu. Biarkan saja rembulan jauh dari sudut pantai, asalkan kami selalu bersama.” ucap ibu kepadanya.
 Yang ku lihat hanya derai tuntunan air mata yang menjawab seikat kata manja seorang ibu kepada anak bungsunya itu, Jingga. ia adalah seorang anak yang luar biasa. Mungkin orang diluar sana hanya melihat Jingga seperti seekor anak kambing yang diikat pada penegak tiang dan selalu menunggu kehadiran seseorang untuk mengurusnya. Tetapi menurut kami, dia adalah seorang malaikat kecil yang hebat dan mempunyai impian besar yang tidak orang miliki. Pernah sesekali kami memberi obat dan terapi kepadanya, namun semua itu hanya sia-sia, karena jingga menolak untuk melakukannya. Kami hanya ingin memberikan yang terbaik untuknya.  Kami tidak tahu apa yang selama ini ia pikirkan. seperti kubang yang melewati sekuntum bunga yang harum. Dia tak pernah mencurahkan apapun yang dia inginkan, hanya sajak dan syair yang selalu dia tulis dalam coretannya bersama tatapan tajam yang mengarah pada langit jingga , langit dimana matahari mulai  terbenam. Seringkali aku memperhatikannya dan menatap indah keagungan Tuhan itu, dan sering kali juga aku melontarkan pertanyaan yang  sama kepadanya
“Dek, kakak mau nanya? Kenapa sih kamu suka sekali menatap bahkan menulis beribu syair untuk langit itu?”  tak pernah ada jawaban dari pertanyaanku , walau aku tahu dia bisa saja menjawabnya pada coretan  dibukunnya , namun sama sekali tidak, dia terus saja menulis syair yang indah untuk langit jingga yang sangat indah itu. Pernah ku mencuri pandanganku kearah buku  yang sedang ia tuliskan  “ Langit Jingga Diufuk Rantingku“. Aku sama sekali tidak mengerti arti dan makna dalam setiap kata-katanya. Ketika langit jingga itu sudah bergilir pada warna yang sesungguhnya, Jingga selalu memejamkan matanya dan memeluk erat buku yang berisi beribu syair yang indah seperti tidak bernafas melihatnya. Namun aku yakin, dibalik semua itu ada keinginan yang mulia dari seorang Jingga terhadap hidupnya
***.
            Pada suatu malam yang dingin, diperkirakan akan terjadi hujan yang sangat lebat, ibu ingin menemani Jingga di kehangatan balutan selimutnya.
 “Jiingggaaaaaa” teriak ibu.
 Ada apa dengan ibu? aku dan ayah langsung menelusuri suara itu, suara yang berasal dari kamar Jingga. Kamar yang tidak berpenghuni, hanya sepucuk surat yang mampu         menjawabnya
“...Tiada yang sempurna dalam hidup, namun tercipta semua menjadi kesempurnaa seseorang dalam menjalani kehidupan. Tercipta sebuah mata untuk melihat, tercipta sebuah telinga untuk mendengar, tercipta sebuah mulut untuk berbicara, tercipta seluruh raga untuk bergerak , sampai tercipta keluarga untuk menderatkan detak jantung kehidupan . Kadangkala kesempurnaan itu yang menjadi seseorang sangat sulit untuk  bersyukur. aku tak pernah meminta kesempurnaan dariMu, aku terlahir dangan raga yang tidak sempurna, dengan mulut yang tak bernada, dengan pendengaran yang kurang jelas.. Tak masalah bagiku, tetapi izinkan aku meminta kebahagiaanku untuk keluarga ini Tuhan.... Izinkan aku memetik keindahan langit Jingga diufuk rantingku, sebagaimana pohon yang indah dengan ranting-ranting yang bergelut mesra dibawah langit jingga yang memberikan makna subur, kokoh, kuat, dan seikat kebahagiaan seseorang yang melihatnya .dan pohon itu akan berdiri dengan ranting yang selalu bertambah sedikit demi sedikit dengan daun yang hijau serta gemilangnya bunga dan buah. Tuhan ambilah satu ranting dari pohon ini, tetapi tumbuhkanlah seribu ranting untuk pohon ini, agar selalu tumbuh menjadi pohon yang indah.
  Ibu, ayah, ka dera. Berjanjilah padaku, aku hanya ingin mencari apa yang ingin aku cari, aku hanya ingin melihat apa yang ingin aku lihat.aku hanya ingin melukiskan jejak-jajakku, percayalah aku selalu besama keluarga yang sangat istimewa ini. Tuhan sudah mengirimkan anugrah terindahnya kepadaku. percayalah aku bersahaja pada indahnya langit jingga...”.
 Sejak malam itu, kekhawatiran kami memuncak. Seluruh cara kami lakukan untuk mencari Jingga walau hujan lebat mengahalangi langkah kami.
***
            3hari,  72 jam, 10800 detik berlalu, tidak ada kabar mengenai Jingga. Tak pernah berhenti menangis, tak pernah berhenti berdoa, dan tak pernah berhenti mencarinya.
 “Jingga... dimana kau nak? Ibu khawatir sekali, ibu ingin memelukmu, Pulang laaah...” riintihan suara ibu tak kuat ku bendung lagi, berbagai cara telah kami lakukan untuk mencara Jingga, namun tekadku untuk mencari Jingga sangatlah besar, aku harus mencari tau sendiri dimana Jingga, aku yakin dia pergi kesuatu tempat yang sangat ia impikan selama ini dan itu semua ia curahkan pada bukunya. Aku mecari dan membaca buku itu,sampai pada halaman ke21 buku itu bertuliskan “satu titik cinta Jingga dibawah langit jingga” aku terus  membacanya dan ku menemukan beberapa kalimat impiannya.
“...Dihari yang indah, berteman bunga dan burung-burung berkicau merdu terikat pada suatu cinta, menerangkan beribu harapan, tersenyum bahagia, melepas duka yang lara, tersinar dibawah langit jingga.
Langit jingga, Langit yang menyipan titik-titik kebahagiaan bersamanya. Aku selalu melihatmu dan selalu menantikanmu, kau hadir disetiap harapanku. inginku melangkah lebih jauh untuk mendekatimu, menemukan pohon bersama ranting-ranting yang sudah tumbuh besar. Akankah aku menemukannya? Jejak-jejakku akan melukiskan keindahanmu...”
***
Dan kini aku mengerti arti langit jingga untuknya, hari itu pun aku pergi tanpa seizin ibu dan ayah. Aku pergi membawa sepucuk surat dan buku hariannya itu. Kemana langkah kakiku ini berpijak? Aku menelusuri cahaya yang datang ketika langit jingga bergemilang. Saat itu, tak hentinya kakiku berlari mengejar cahaya tersebut. Semakin aku berlari semakin redup harapanku menemukan Jingga.  jika ia selalu menggambarkan bahwa aku adalah seorang kakak yang baik dan terhebat untuknya, akankah pandangan Jingga terhadapku menjadi bukti kalau aku memang kakak yang baik untuknya? Kurasa tidak, sampai aku menemukannya. Sudah dua kali hadir dan berganti warna, cahaya langit jingga belum juga ku gapai. Air mata menuntunku dalam berlari, berlari dan terus berlari. Namun mata ini sekejap menatap kuasaanMu yang membuat kaki terasa berat untuk melangkah, terjatuh dalam hamparan tanah yang luas, berbisik bunga dan burung-burung, sapaan air yang meluas, hadapkan pohon yang sangat besar dengan warna jingga yang menyolok tajam. Tak berfikir apapun saat itu, hanya doa yang ku panjatkan untuk Jingga.
 “sekali ini saja Tuhan ambilah rantigku, tetapi kembalikanlah Jingga kepada ayah dan ibu” ucapku dengan teriakan memenuhi hamparan tanah itu. Nafas hampir tak terkendali lagi, keindaahan yang tak kusadari ini mulai  hilang, dan sesaat aku terjatuh  tak sadarkan diri.
Aku merasakan hal yang aneh, ketika air yang menjatuhi wajahku setiap detiknya. Aku merasa aku harus membuka mata ini, dan apa yang terjadi? Sosok anak perempuan yang terseyum manis, dengan teduhuan pohon yang sangat besar. Didalam pikiranku itu adalah Jingga dan memang itu Jingga. Pelukan hangat ini menyapanya dan rasa bahagia memujanya. Tak akan kutanya mengapa dia menghilang? Karena aku tahu semua manusia mempunyai impiannya, ia akan mencarinya dan tak peduli seberapa besar rintangan yang ia hadapai, namun impian itu harus kita raih. Begitu pula dengan Jingga. Dia tak meminta apapun, ia hanya ingin mengejar impiannya, yaitu menikmati anugrah Tuhan yang indah itu dan menciptakan kebahagiannya sendiri dibawah langit jingga. Dan saat itu langit jingga membuktikanku bahwa hidup akan terus berganti warna, baik terang maupun gelap dan dalam setiap warnanya pasti ada satu warna yang membuat kita bahgian melihatnya. Rasa bahagia menyelimuti keluarga kami ketika kami sampai dirumah, berpeluk hangat dengan ayah dan ibu. tak ada lagi seekor anak kambing yang diikat ditiang, mungkin orang akan berfikir ulang untuk mengandaikannya, karena yang ia andaikan mampu berjalan melukiskan jejak-jejaknya dan meraih impiannya.
”Ibu, ayah, ka dera. Maafkan aku, karena aku pergi begitu saja. Karena ku tahu kalian takakan pernah mengizinkanku untuk pergi, aku hanya ingin mengejar impianku dan membuktikan pada dunia bahwa aku bukanlah seekor anak kambing yang diikat pada penegak tiang, aku adalah seorang Jingga yang mampu mengejar impianku, dan Jingga yang memiliki keluarga sangat istimewa. Mempunyai ibu yang tegar, ayah yang penyayang, dan kakak yang hebat, aku bangga mempunyai kalian. Aku berharap kalian bangga mempunya seorang Jingga. Sungguh, ku tak meminta apapun untuk menjadi sempurna. Dan sungguh, aku hanya ingin menciptakan sedikit dari banyaknya cara orang menghadirkan kebahagiaannya. Lalu salahkah aku?” tuturan pena Jingga pada tulisannya.
Jingga mengajarkan kita bahwa kekurangan bukanlah hambatan untuk menciptakan kebahagiannya sendiri, janganlah  kalian menutupinya, berilah kesempatan untuk mereka melakukan hidupnya sendiri, dan mengejar apa yang mereka inginkan. Jingga, kami bangga memilikimu. Bagi kami, keluarga memang segalanya, tanpa keluarga hidup tidak akan sempurna. tetapi tanpa dirimu kami bukanlah keluarga yang sempurna.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Fakta Mengejutkan tentang Patrick Star

Apakah kalian pencinta kartun SpongeBob? Tentu kalian sudah bisa membayangkan jika kartun spongebob bukan hanya tentang si kuning, tapi juga...